Pages

Sunday, January 07, 2007

[SEDIH BANGET] Mamah Andi sakit

Sore tadi saya dihubungi (lewat hand phone) oleh Mamah (kebiasaan pribadi untuk memanggil Ibu saya) sekadar ingin menanyakan kabar saya, mungkin sedang kangen berat kali ya? Padahal pada 3 hari (Sabtu, Minggu, dan Senin) saya pulang ke Banjar di Hari Raya Idul Adha dan liburan Tahun Baru 2007 kemarin.

Pada sore tersebut saya sedang membantu teman saya yang pindah kost, katanya agar mendapat lingkungan yang lebih kondusif untuk belajar dan bekerja, serta lebih dekat dengan kampus.

Di tengah-tengah pembicaraan saya juga menanyakan kabar Beliau:
" Mamah sapertos nuju teu raraos (Mamah seperti lagi 'ga sehat ya?)? "

Mamah menjawab:
" Puguh muhun, ti pas Andi uih ge da tos teu damang (Iya, sudah terasa sakit/tidak enak badan sejak Andi pulang kemarin).... "


Anak yang mana yang 'ga sedih kalau ternyata kita meninggalkan Orang Tua yang sedang sakit, dan kita tidak (sempat) menanyakan kabar kesehatannya ketika kesempatan bertemu itu ada. Ini tidak hanya sekadar alasan, memang pada waktu itu ketika saya berada di Banjar, kerjaan saya hanya tidur, karena badan terasa 'ga enak dan sedikit meriang (mungkin karena cuaca yang "kurang bersahabat" dan tubuh ini tidak dalam kondisi yang bugar).

Memang, pada malam harinya (seperti biasa) saya selalu diminta Mamah untuk meuseul (memijat dalam bahasa Sunda) kedua kaki Beliau, dan malam itu "pasien" bertambah menjadi 2, Bapa (Ayah) dan Ema' (Nenek) saya pun meminta untuk dipijat. Saya tidak menyangka ternyata Mamah (dan sangat mungkin Bapa dan 'Ema pun) sudah merasa sakit sejak malam tersebut (tepatnya sesudah Hari Idul Adha), dan bisa jadi sudah dirasakan dari hari-hari sebelumnya walaupun saya belum menanyakannya lebih lanjut.
Saya menduga sakit Beliau ini mungkin sakit yang biasa Beliau rasakan kalau terlalu capek dari tempat kerja, dan biasanya akan sembuh di keesokan paginya. Dan, pada malam itu (kata 'Ema saya) Mamah bisa tidur dengan sangat pulas, yang biasanya selalu tidak bisa tidur dengan pulas di setiap malamnya (suka gundah tiap malam). Walaupun saya tidak terlalu khawatir dengan sakitnya, tapi yang membuat saya khawatir dan tidak tenang adalah tidak bisa berada di sampingnya ketika Beliau sakit karena harus segera menyelesaikan tugas saya di kampus (di Bandung).

Ingat tidak ketika kita sedang sakit pada waktu masih kecil dan Ibu kita selalu mendampingi dan merawat kita? Nah, sekarang apa balas budi kita kepada Orang Tua ketika Mereka sedang sakit? Egoiskah kita membiarkan Orang Tua sendirian dalam sakitnya? Siapa yang bisa tega melakukannya?

Malam ini saya kebingungan antara harus mengerjakan tugas secepatnya (karena dikejar deadline) atau pulang untuk menengok Orang Tua?.. Pulang jangan ya?...

Pantas saja waktu itu Bapa menanyakan apakah saya bisa sedikit lama (mungkin seminggu) untuk tinggal (istirahat) dulu di Banjar?...Mungkin mereka sudah sangat kangen kali ya? (begitupun saya juga kangen banget!) karena memang sudah 3 bulan ini saya hanya pulang ke Banjar 1 bulan 1 kali (biasanya 2 minggu satu kali)... Iya, nampaknya kami sudah sangat jarang lagi pergi liburan bersama dalam waktu yang cukup lama.

Semoga Orang Tuaku lekas sembuh dan kami bisa cepat bertemu bersama lagi dalam waktu yang cukup lama untuk melepaskan kerinduan seorang Anak dengan Orang Tuanya... Semoga Jalan Pertolongan-Mu dapat kulihat dan kujalankan dengan benar, serta Hikmah cobaan ini menjadi pelajaran berharga dan tak terlupakan sepanjang hidup.

Friday, January 05, 2007

openSUSE 10.2 on My Machine

[Gambar 01: Tampilan Desktop Linux Hasil Kustomisasi]

Distro openSUSE ini saya download dengan menggunakan wget, dan baru kali ini saya melihat ketangguhan download manager sederhana (tapi cukup reliable) dalam men-download file ISO DVD openSUSE 10.2 sebesar 3.6 GB! dengan beberapa kali resuming. Terima kasih kepada Hrvoje Niksic (hniksic@xemacs.org) dan semua Programmer yang terlibat. Dan distro ini menjadi kado (hadiah) Idul Adha dan Tahun Baru 2007 yang tak terlupakan bagi saya!... Mudah-mudahan saya (pribadi) mempunyai semangat baru dan dapat terus konsisten dalam "berkorban" untuk kebaikan :)

OK then, proses instalasi openSUSE 10.2 ini memakan waktu kurang lebih 30 menit pada instalasi default dengan memilih KDE sebagai desktop environment-nya. Berikut deskripsi hasil instalasi distro tersebut di notebook saya:

LCD dan VGA Adapter
Pada probing hardware ini, openSUSE 10.2 mendeteksi LCD ini dengan nama QUANTADISPLAY LCD MONITOR dan VGA Adapter-nya dengan driver VESA [Gambar 02] (padahal notebook saya memakai ATI Mobility Radeon X1300.. hehehe..) dan akhirnya diberi resolusi 800x600 [Gambar 05], sehingga pada saat booting ke desktop, icon, font dan window aplikasinya terlihat berukuran besar dilihat di mata saya. Kita tunggu setelah saya install driver ATI-nya.

[Gambar 02: Potongan Isi File /etc/X11/xorg.conf Awal]

Mouse dan Keyboard
Untuk hal ini (saya kira) semua distro sudah mendukungnya dengan baik [Gambar 03], hanya saja seperti tombol tambahan (seperti: tanda mata uang Euro dan Dollar) di notebook saya tidak bisa muncul di standard output ketika di-press. Pada sisi lain, semua tombol multimedia dan short cut-short cut Acer dapat digunakan dengan baik. Hal ini sekali lagi membuktikan bahwa peripheral (terutama yang vendor specific) hardware sudah mulai banyak di-support oleh programmer vendor tersebut untuk bisa dipakai baik di atas platform Linux.

[Gambar 03: Potongan File /etc/X11/xorg.conf untuk Konfigurasi input device]

Wireless and Ethernet Adapter
Hal yang menyenangkan bagi saya adalah wireleess adapter yang dulu sempat "aneh" bisa langsung dipakai secara langsung [Gambar 04], dan di-detect sebagai "Intel Corporation PRO/Wireless 3945ABG Network Connection". Untuk Ethernet Adapter-nya (dari dulu) tidak ada masalah, langsung di-detect sebagai "Broadcom Corporation BCM4401-B0 100Base-TX".

[Gambar 04: openSUSE 10.2 Sudah Otomatis Dapat Menjalankan Koneksi Wireless]

Tampilan X WIndows (Grafis)
Perubahan mendasar dari segi tampilan adalah bentuk start menu yang baru [Gambar 05], ubahan dari programmer openSUSE sendiri. Walaupun terlihat menarik, setelah dicoba, akhirnya saya kembali dengan start menu KDE yang biasa (bentuk sebelumnya). Suatu saat apabila sudah dirasa bosan, saya akan switch ke model start menu yang baru tersebut :)

[Gambar 05: Bentuk Start Menu Baru dan Tampilan Desktop yang Masih Berukuran "Besar"]

Berikut (sebagian) isi /etc/X11/xorg.conf [Ganbar 06][Gambar 07] setelah saya instalasi driver ATI di notebook saya tersebut:

[Gambar 06: Potongan Isi File /etc/X11/xorg.conf Hasil Instalasi ATI Driver--fglrx]


[Gambar 07: Potongan File /etc/X11/xorg.conf Hasil Instalasi ATI Driver--Monitor&Screen]

dan game 3D-pun [Gambar 08] dengan smooth dapat dijalankan, plus tampilan desktop yang lebih menawan [Gambar 01] ! :)

[Gambar 08: Salah Satu Game yang Memerlukan Kemampuan 3D Acceleration]

Have fun then! :)

Tuesday, December 26, 2006

Sulit Banget!

Setelah dipikir-pikir ternyata memang benar apa kata Pak Onno, kalau Pengguna Windows akan merasa kesulitan untuk menghapus O.S di komputernya dengan O.S lain yang berbeda, dalam hal ini GNU/Linux (bisa kita sebut dengan "Linux" saja), distro apapun itu.

Berikut khayalan saya kenapa Sulit Banget!-nya Pengguna Windows untuk beralih ke Linux:

1. Kebiasaan
Apapun alasannya, sebagus, dan se-user friendly apapun distro yang ditawarkan, pengguna Windows akan tetap bersikukuh dalam mempertahankan kebiasaannya, terus ber-windows ria.

Mari kita bayangkan dua orang anak kecil yang lahir dengan didikan dan aturan kebiasaan makan yang berbeda. Setelah 5 tahun sejak kelahirannya, Anak ke-satu (sebut saja Anak A) mendapatkan "makanan berat" pertama bernama nasi, sampai umurnya dewasa tidak pernah berubah jenis makanan pokoknya itu, tetep nasi. Sedangkan Anak yang lain (sebut saja Anak B) mendapatkan makanan pokonya dari kecil berupa Pizza hingga berumur dewasa. Selanjutnya mari kita suruh kedua anak tersebut untuk berganti kebiasaan makan, Anak A harus makan pizza dan Anak B harus makan nasi... bisa kita tebak kedua anak tersebut akan muntah dan akan kembali ke makanan nenek moyangnya; Anak A tetap makan nasi, dan anak B tetap senang dengan pizza-nya.

Begitupun dengan kedua Pengguna O.S ini, Pengguna Windows akan merasa aneh dan mungkin muak dengan sistem operasi Linux, dan sebaliknya, pengguna Linux-pun akan melecehkan dan muntah melihat begitu kaku dan kampungan-nya desktop Windows.

Biasanya kebiasaan ini akan berubah ketika ada desakan dari pihak luar yang tak sanggup dilawannya, bisa berupa tekanan Pemerintah (dengan aturan dan pelaksnaan UU yang ketat dan konsisten) untuk menggunakan O.S tertentu saja misalkan, atau dengan hati nurani, dan kepentingan tertentu (tuntutan studi, disuruh Bos, dsb.)

2. Support Vendor Hardware (dan mungkin Software?) yang Rendah terhadap Sistem Operasi Linux.
Banyak teman-teman kita (Pengguna Windows) yang mengeluhkan bahwa sebagian peripheral device di komputernya tidak bisa digunakan dengan baik apabila dijalankan di atas platform Linux. Memang benar sebagian kecil device baru belum bisa digunakan dengan baik oleh Linux, beberapa bisa diakses dengan baik, dan sebagian lagi mendapatkan cara yang kurang wajar dalam mengkonfigurasi dan menggunakannya (harus re-compile kernel, download driver baru, atau bahkan membuat modul-driver nya sendiri), dan ini menjadikan support dari Konsultan atau Komunitas Linux sangat berarti dan berpeluang untuk menjadi bisnis yang fair.

Saya menempatkan point ini di posisi ke-2 karena point ini tidak begitu signifikan dalam proses migrasi Windows ke Linux, sebagain besar diakibatkan pada sisi politik dagang pihak Microsoft dalam memonopoli industri komputer dunia. Dan hal ini tidak bisa menyimpulkan bahwa Linux tidak bisa memanajemen hardware dengan baik, hanya saja pihak Vendor sendri yang enggan dan merasa takut tidak di-support lagi oleh Microsoft, dikarenakan telah mendukung (memberikan driver device-nya ke) Linux. Kernel Linux sudah lebih dikatakan siap untuk dijalankan di segala jenis komputer yang ada di Bumi ini. Hanya saja Microsoft belum (atau tidak akan pernah?) siap dalam mendukung Linux, dan mempersilahkan pihak Vendor Hardware untuk membuat driver-nya untuk Linux.

3. Pemerintah sebagai Penentu kebijakan.
Selama Pemerintah masih diikat dengan belenggu dan hobi ber-korupsi, selama itu pula UU HaKI yang sudah lama diputuskan, tindaklanjutnya (seperti biasa) seperti jalan di tempat. Bangsa ini akan terus membuang uang ke luar negeri (Microsoft, USA) dalam membeli produk-produk Negara Asing, dan selama itulah Programmer-programmer, Computer Engineer kita akan nganggur atau bahkan lari ke luar negeri karena tidak begitu dipedulikan oleh Negaranya sendiri. Politics? That's why I (really) hate Politics... but not at all.

Benar, tidak semua kebutuhan komputasi bisa dilakukan di atas platform Linux (beberapa ada yang hanya bisa dijalankan pada spesifik platform tertentu), namun apabila ternyata kebutuhan tersebut sudah tersedia di Linux, kenapa harus menggunakan WIndows?... You can answer this by your own words.

Apabila benar bahwa Windows (default)--even Vista if you think so--memiliki tampilan GUI yang menarik, saya percaya Anda sedang tidak waras atau kesurupan, Anda belum melihat Desktop Linux (KDE atau Gnome) sebenarnya. Saya sampai hari ini belum mendapatkan jawaban yang pasti, kenapa pengguna Windows begitu memuja tampilan desktop-nya yang bagi saya pribadi (subjektif) begitu kuno dan kampungan, atau karena Bangsa ini memiliki jiwa eksperimen buruk, sehingga matanya tidak bosan/jenuh melihat desktop yang begitu standard?

AKHIRNYA CURHAT SAYA YANG TELAH LAMA TERPENDAM BISA DIKELUARKAN JUGA.

BAGI YANG TIDAK MENYUKAINYA, SILAHKAN TINGGALKAN BLOG INI, DAN TAK HARUS KEMBALI LAGI... :)


JANGAN KIRA SAYA BISA BERJIWA STANDARD DAN BAIK SAJA, SAYA PUN BISA KESAL DAN MENGESALKAN ORANG... :)

Monday, December 11, 2006

My KlamAV is Back!

[Gambar A: Proses scan yang memakan waktu terlalu lama]

Pada awalnya saya kira KlamAV (front-end manager KDE untuk program anti virus ClamAV™) memiliki bug di versi 0.37-nya. Masalah itu muncul ketika KlamAV melakukan scanning suatu path (file atau directory) dengan proses scan yang memakan waktu (menurut saya) terlalu lama [Gambar A]. Sebelumnya saya memakai KlamAV versi 0.36 (dengan ClamAV versi 0.88.4), dan proses scan berlangsung cepat (normal). Saya pikir memang saya sendiri penyebabnya, tidak menyertakan program on-access scanner Dazuko. Waktu itu dazuko kesulitan untuk saya install, dan memang saya belum mengerti apa dan bagaimana Dazuko berjalan serta pengaruhnya terhadap program anti virus ini.

Karena ga mau ribet soal dazuko lagi, tadi malam saya iseng mencoba anti virus lain yang bisa dijalankan di Linux (openSUSE 10.1) tanpa harus meng-install Dazuko. Pilihan pertama jatuh di AntiVir, program anti virus bawaan distro tersebut. Tapi ternyata AntiVir yang di-install adalah AntiVir versi trial 30 hari (?)... halah!, mau install yang "free" harus download dulu, konfigurasi (=belajar) lagi, de el el, de el el,... ga ah, ga usah...

Akhirnya AVG Anti Virus menjadi pilihan selanjutnya, setelah di-install, ternyata terjadi lagi kejadian yang sama dengan AntiVir, harus registrasi (minta key registration) ke situsnya. Sepertinya saya harus menggunakan AVG Free Edition-nya agar bisa dipakai "selama mungkin", untuk yang satu ini saya paksakan untuk men-download-nya dari situs Grisoft. Sebelum saya install program anti virus tersebut saya sempatkan untuk membaca dahulu dokumentasi-nya (dalam bentuk pdf) yang juga saya dapatkan dari situs yang sama. Setelah khatam membaca dokumentasi tersebut akhirnya saya berkesimpulan bahwa program anti virus apapun (yang berjalan di Linux) apabila ingin berjalan normal (benar) mau ga mau harus di-install juga software yang bernama Dazuko (ClamAV bisa menggunakan Clamuko sebagai alternatif) atau program lain yang sejenis.

[Gambar B: Proses scan yang normal]

Sepertinya memang sedikit nge-jelimet kalau menginginkan program anti virus berada di sistem Linux (dan memang Linux belum tentu membutuhkan program aplikasi ini, setidaknya untuk hari ini), tapi karena didorong ingin membantu teman-teman lain (Windows Users) agar bisa men-scan komputernya yang terinfeksi virus, maka saya sedikit memaksakan juga untuk meng-install program aplikasi anti virus ini (sekalian belajar juga seh :) ). "Nge-jelimet" ini dirasakan karena memang saya lihat Linux begitu ketat dalam mengatur access control ke sistemnya, begitu pun untuk anti virus ini. Program anti virus tidak bisa melakukan akses untuk memodifikasi suatu file atau directory terhadap objek yang dianggap terinfeksi oleh virus komputer (infected object), bahkan hanya untuk proses scanning-nya pun tidak dizinkan oleh Kernel Linux. Oleh karena itu Dazuko diperlukan sebagai device driver (modul kernel) yang memberikan fasilitas bagi userland (program aplikasi) untuk bisa meng-execute (diartikan sebagai: memiliki) file access control sistem, dalam hal ini memberikan izin bagi program anti virus untuk melakukan scanning (termasuk memodifikasi file atau directory) di sistem Linux. Jelaslah bahwa dazuko wajib untuk di-install.

[Gambar C: KlamAV mendeteksi adanya virus]

Setelah mengetahui bahwa AVG pun memerlukan dazuko ini, saya install, dan melakukan konfigurasi (menyertakan Dazuko dalam modul kernel Linux di mesin saya), akhirnya semua masalah yang dulu pernah saya alami sebelumnya berhasil diselesaikan [Gambar B] (tentu saja dengan menghabiskan 2 gerobak nasi goreng depan kampus, 1 galon susu cap beruang, 3 ember keringat , 2 lusin pakaian lengkap, dan 1 krat kratingdaeng... :D ). Sekarang saya kembali lagi menggunakan KlamAV sebagai program aplikasi anti virus pilihan utama di komputer Linux dan Windows* (legal koq, lisensi Acer :) ) saya.

[Gambar D: Result dari hasil proses scan]


*ClamAV di Windows mengunakan front-end manager ClamWin.

Wednesday, December 06, 2006

KluB, Common Room, and Its Collaboration

Diawali dengan pertemuan pengurus KluB (KluB Linux bandung) pada hari Sabtu (25 November 2006) di Common Room--Jl. Kyai Gede Utama 8 Bandung--yang dihadiri oleh Willy (Ketua KluB), Gustaf H. Iskandar (Koordinator Bagian Riset dan Pengembangan Common Room Networks Foundation), Charlie, Bambang, Andre, Jhon E., dan saya, akhirnya disepakati bahwa KluB akan bekerja sama dengan Common Room dalam pengembangan dan penetrasi sistem operasi Linux dan FOOS (Free and Open Source Software) di Kota Bandung, khususnya pada bidang aplikasi multimedia dan digital art.

Pada pertemuan tersebut disepakati bahwa Pihak Common Room akan menyediakan sarana dan fasilitas yang ada untuk memberikan keleluasaan dalam aktivitas Para Aktivis Linux Kota Bandung yang dimotori oleh KluB, dan bersama-sama dengan KluB membangun atomosfer teknologi informasi berbasiskan free/open source software di Kota Bandung tercinta ini. Idealis memang, tapi dengan usaha yang konsisten semua bisa kita wujudkan bersama-sama.

Keinginan itu pun ditindaklanjuti dengan pertemuan selanjutnya di tempat yang sama (Sabtu, 4 Desember 2006) setelah disepakati bahwa setiap hari Sabtu (pukul 14.00 s.d. selesai) dalam satu minggunya kami akan rutin kembali mengadakan pertemuan bersama, dan hari itu dihadiri oleh Willy, Gustaf H. Iskandar, Azuwir, Shifa, Aty, dan saya, kembali membicarakan rencana kegiatan selanjutnya.

Dengan adanya dukungan semua pihak dan melihat potensi yang ada, akhirnya beberapa kesepakatan telah diputuskan (sebagai langkah awal kegiatan):
  1. KluB akan mem-publish beberapa tulisan yang berhubungan dengan Linux dan FOSS di media koran atau majalah lokal (kemungkinan di Koran Pikiran Rakyat-Jawa Barat dan Majalah Islam Percikan Iman-Bandung) dengan isi tulisan yang cukup sederhana dan dapat dipahami dengan mudah oleh masyarakat umum.
  2. KluB & Common Room akan membangun Radio Internet yang cukup representatif untuk bisa dijadikan media komunikasi kalangan Musik dan kreativitas seni dan Linux di Kota Bandung (khususnya).
  3. Mengembangkan dan memanfaatkan software openMosix sebagai program parallel/cluster computing agar bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk penelitian (akademik) tapi juga dunia industri.
Pada akhirnya, semoga rencana kegiatan di atas bisa direalisasikan dengan baik tentu saja dengan bantuan dan kerja sama semua pihak.

Dengan di-publish-nya tulisan ini, kami mengundang semua pihak (khusunya Aktivis Linux Bandung) untuk bisa hadir di pertemuan hari Sabtu selanjunya di waktu dan tempat yang sama, Common Room (Jl. Kyai Gede Utama 8-Bandung), untuk menindak lanjuti kegiatan yang sudah disepakati tersebut (tak tertutup untuk mengadakan acara lainnya), serta bersama-sama membantu dalam peningkatan kualitas masyarakat yang lebih bermanfaat, tentu saja dengan FOSS.